Rarely played live. This song was intended to be released on Origin of Symmetry, but had been written years before, having been played at both the Budstock and Plymouth Festivals in 1997. The song was recorded at the same session as Ashamed and Yes Please, but was not issued on any Showbiz singles, even Sunburn where the other tracks surfaced. It was carried over to Origin Of Symmetry and remixed for inclusion, but was removed as the band did not want to have too many entirely guitar based songs on the album.
Six different interpretations:
1.An affection for someone that has gone too far.
2.A song about God, saying how he isn’t even listening to what people are saying i.e. in their prayers.
3.Another leader who is destroying the world, such as in Take a Bow.
4.About a person who, despite his hard work to the world around him (trying to be #1), he is not acknowledged. Now he is in a rage. He now blames the world for his failure and has plots to create havoc and destroy the world around him to set things right.
5.About talking to the mirror, talking to yourself. Blaming yourself for all the bad things that have happened to you. Looking at the thing you’ve become-old, broken, cold; and this person is made by the world around you.
6.A rejection of the fashion of environmentalism (“sick of trying to please you”), personifying the Earth as being cold and uncaring; it kills people with earthquakes it cannot even feel so “why should I?” (engage in environmentalism). That the world has gone so wrong, Nature itself is a disaster.
Lyrics:
Conforming on a Monday
Too often and too cold
But you aren’t even listening ‘cause you are just
Too old to feel an earthquake
Or too cool to even care
But you aren’t even listening
So why should I?
You are a natural disaster
And I’ve wanted you too much
And now I’m gonna lose I’ve wanted you too much
And now I’ve gotta choose
You’re the cause of all this
And I’m sick of trying to please you
Yeah And you’re gonna feel my emotions coming
Yeah Because you’re the world
Like a broken dam you’re empty
And all that’s left are the sticks and stones
That were built by other people
And it really shows
But you aren’t even listening
Because you are just
Too old to feel an earthquake
Too cool to even care
But you aren’t even listening
So why should I?
You are a natural disaster
And I’ve wanted you too much
And now I’m gonna lose
I’ve wanted you too much
And now I’ve gotta choose
You’re the cause of all this
And I’m sick of trying to please you
Yeahhh And you’re gonna feel my emotions coming
Yeahhh Because you’re the world
Sepertinya dunia sudah terbalik. Banyak sekali hal aneh yang terjadi. Ada laki- laki ingin jadi perempuan lah, atau sebaliknya. Ada juga orang kaya yang ingin jadi orang miskin. Lho!!
Kalau misalnya orang- orang saling berusaha untuk memperbaiki hidupnya (orang miskin ingin jadi kaya) itu sudah biasa. Tapi untuk kasus orang kaya yang ingin jadi orang miskin? Apa yang dipikirkan oleh orang- orang tersebut.
Fenomena tersebut dapat kita lihat pada waktu- waktu menjelang Hari Raya Iedul Fitri ini. Ya, ketika umat Islam diwajibkan untuk membayar Zakat fitrah. Saat ini banyak sekali tempat yang menggelar pembagian zakat fitrah, baik mesjid, rumah orang kaya, atau lembaga- lembaga dan organisasi- organisasi kemasyarakatan. Dengan membagikan kupon- kupon kepada para mustahiq yang nantinya akan ditukar dengan sembako sebagai wujud dari hasil pengumpulan dana zakat fitrah.
Namun, ada yang aneh dari fenomena tersebut. Tidak sedikit orang- orang yang mendapat kupon tersebut yang pada akhirnya tidak mendapatkan santnan zakat. Entah itu karena jatahnya kehabisan atau memang jumlah kupon yang disebarkan lebih sedikit dari jumlah sembako yang akan dibagikan. Akan tetapi, yang jauh lebih ironis adalah ketika proses antri untuk mendapatkan zakat, seringkali terlihat warga- warga yang seharusnya menjadi muzzaki namun ikut mengantri untuk mendapatkan santunan zakat. Tidak sedikit dari mereka yang mengantri dengan memperlihatkan status mereka sebagai orang mampu. Mereka mengenakan perhiasan- perhiasan emas, baju- baju bagus dan berdandan seperti mereka akan pergi shopping. Padahal bukannya jika sudah nisabnya emas yang mereka kenakan itu harus dikeluarkan juga zakatnya?
hal ini diperparah dengan tidak adanya panitia yang melarang atau sedikitnya mereview ulang warga- warga yang mengantre zakat tersebut. Akibatnya ketidakmerataan pembagian zakat pun terjadi. Di mana ibu- ibu dengan pakaian bagus dan mengenakan perhiasan mendapatkan santunan zakat, namun di sisi lain seorang anak yang berpakaian sederhana (mungkin lebih menyerempet ke kata lusuh) dengan membawa kedua adiknya yang masih kecil dan telah mengantre di bawah panas terik matahari malah tidak mendapatkan jatah zakat sekalipun ia memiliki kupon sebagai syarat untuk mendapatkan zakat.
Pernah terpikir mengapa bukan orangtuanya yang mengantre jika memang ia berasal dari keluarga tidak mampu? Jawabannya, ibunya sakit- sakitan karena berkorban tidak makan (bukan hanya berpuasa di bulan ramadan saja, namun memang tiap hari hampir selalu kesulitan untuk mendapatkan beras untuk makan) asalkan anak- anaknya bisa makan (walaupun hanya sesuap nasi, entahlah nasi yang layak atau tidak dan mungkin dengan lauk hanya taburan garam). Ayahnya? sudah lama meninggalkan mereka (meninggal dunia bukan meninggalkan karena tidak bertanggung jawab terhadap keluarga). Sungguh memang ironis, fakir, miskin dan anak yatim yang seharusnya didahulukan untuk diberi zakat malah tidak mendapatkan jatah dan harus pulang dengan tangan hampa.
I was never faithful
And I was never one to trust
Borderlining schizo
And guaranteed to cause a fuss
I was never loyal
Except to my own pleasure zone
I’m forever black-eyed
A product of a broken home
I was never faithful
And I was never one to trust
Borderline bipolar
Forever biting on your nuts
I was never grateful
That’s why I spend my days alone
I’m forever black-eyed
A product of a broken home (Broken home)
Black-eyed
I was never faithful
And I was never one to trust
Borderlining schizo
And guaranteed to cause a fuss
I was never loyal
Except to my own pleasure zone
I’m forever black-eyed
A product of a broken home (Broken home)
Black-eyed
Orang yang berbeda akan menghasilkan pemikiran dan perspektif yang berbeda pula. Hal ini berlaku pula untuk sebuah kata yang mungkin terdengar aneh untuk telinga masyarakat Indonesia. Ya, paradoks tentang whistleblower.
Tanggapan berbeda- beda muncul dari tiap orang akan hal tersebut. Mungkin hal ini dikarenakan kebiasaan dan aturan dasar tentang whistleblower sendiri. Memang pada dasarnya whistleblower tidak berasal dari kawasan timur dunia, namun whistleblower muncul dari belahan barat.
Aturan mengenai whistleblower sendiri berbeda- beda di setiap negara. Ada negara yang sudah mengatur tentang perlindungan dan hak yang harus diberikan kepada whistleblower, namun ada juga yang belum menetapkan hal tersebut. Di US misalnya, whistleblower wajib dilindungi dengan adanya beberapa aturan yang berlaku (ex. Whistleblower Protection Act).
Masih ingatkah kita dengan kasus Enron pada sekitar tahun 2001? Kongkalikong yang dilakukan oleh perusahaan dengan sebuah kantor akuntan publik ternama dunia (Andersen) terkuak dengan adanya keberanian dari seorang karyawati Enron sendiri (yang padahal adalah seorang Vice President of Corporate Development). Beliau berani memprotes atasannya akan kecurangan yang dilakukan oleh perusahaannya.
Apakah hal tersebut dapat dilakukan di Indonesia? Tampaknya ada beberapa yang perlu digarisbawahi. Orang- orang Indonesia mempunyai perspektif yang kurang tepat terhadap whistleblowing. Banyak yang beranggapan bahwa whistleblowing merupakan usaha bunuh diri karena mengadukan kecurangan yang telah dilakukan kepada publik atau atasan. Dengan kata lain, perspektif tersebut mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang whistleblower, kita harus ikut terlibat dalam kecurangan yang terjadi (hal ini senada dengan ungkapan salah seorang pejabat tinggi negara). Padahal pada dasarnya seorang whistleblower tidak harus orang yang terlibat dalam kecurangan yang diadukan.
Selain itu, anggapan kurang tepat juga tentang definisi dari whistleblower itu sendiri. Pada dasarnya whistleblower berbeda dengan pelapor biasa.
“Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan untukmu, namun tanyalah apa yang telah kau berikan untuk negaramu.” - JF. Kennedy-
atau
“Jangan tanya apa yang telah rakyat buat untukmu, tetapi tanya apa yang telah kamu buat untuk rakyat.” -Bang One-
Dua kalimat berbeda yang saling bertolak belakang. Seperti halnya jika kita melihat debat antara seorang optimist dengan seorang realistist. Atau dapat dikatakan juga kalimat yang satu adalah plesetan dari kalimat yang lain.
Apakah kedua kalimat yang bertolak belakang tersebut berlaku untuk semua negara yang berdaulat di dunia ini? Atau hanya paradoks yang berlaku untuk beberapa negara saja dan tidak sama sekali untuk negara lain? Mungkin jika kita berbicara tentang negara yang berada di garis khatulistiwa dan diapit oleh 2 benua dan 2 samudera, hal ini merupakan paradoks. Di nusantara, negara seakan tidak pernah hadir. Benarkah?
Negara tak pernah hadir karena tak terlihat, tertutup oleh sistem, orang- orang yang membuat dan menjalankan sistem tersebut serta perspektif yang salah di mana uang sangat berkuasa. Bahkan saking berkuasanya, keadilan pun dapat dibeli di negara yang kaya akan sumberdaya alam ini. Seperti halnya kemarin, bertepatan dengan hari kemerdekaan (meskipun banyak yang bilang bahwa pada dasarnya negara itu belum merdeka) negara tersebut. Di mana pada hari itu secara rutin, pemerintah memberikan remisi bagi para pesakitan. Namun, karena tak adanya keadilan yang sebenarnya di negara itu remisi di hari kemerdekaan kebanyakan diberikan pada koruptor, sementara pencuri kecil yang mencuri karena lapar tetap membusuk di penjara (benar2 penjara, tanpa fasilitas seperti pencuri uang rakyat).
Apakah ini salah negara itu yang mau masuk ke dalam jebakan kapitalisme yang diciptakan oleh negara- negara yang tidak mempunyai sumber daya untuk ditukar sehingga mereka mencetak uang sebanyak- banyaknya sebagai alat tukar. Padahal uang yang mereka cetak tidak mempunyai nilai riil yang sama dengan nilai nominalnya yang pada dasarnya mereka hanya menciptakan sebuah benda yang rentan dimakan waktu yang bernilai namun akan hilang tak berbekas karena adanya “time value of money”.
Secara tidak langsung kapitalisme (kolonialisme modern) di indonesia telah membuat anak- anak generasi bangsa berfikir bahwa uang adalah segalanya. di mana saat menempuh pendidikan saja yang seharusnya telah digratiskan oleh negara masih saja mencekik mereka karena adanya biaya- biaya yang tetap dibebankan dalam proses menuntut ilmu (ketika dana bos diselewengkan), bahkan pelajar- pelajar pintar yang menerima beasiswa saja bisa terhipnotis oleh sistem yang busuk (ketika org yg bertanggung jawab memotong beasiswa dengan dalih pajak penghasilan padahal pasal 23 PPH saja beasiswa tidak termasuk sesuatu yang dikenakan pajak).
Ternyata masih banyak PR yang menumpuk yang belum terselesaikan di umur negara itu yang hingga hari kemarin telah mencapai 66 tahun.